Urban Exploration

kenapa manusia punya hasrat psikologis untuk menjelajah gedung kosong

Urban Exploration
I

Pernahkah kita melewati sebuah gedung tua yang sudah lama terbengkalai? Kaca jendelanya pecah, dindingnya dipenuhi lumut, dan suasananya sepi merinding. Logika kita pasti berteriak keras untuk menjauh. Namun, di saat yang sama, jauh di sudut pikiran ada bisikan kecil yang bilang, "Coba masuk, yuk. Ada apa, ya, di dalam?" Saya yakin teman-teman pernah merasakan dorongan paradoks ini. Sebuah perpaduan aneh antara rasa takut yang membuat dada berdebar, dan rasa penasaran yang begitu magnetis. Mari kita bedah perasaan ganjil ini sama-sama.

II

Hobi menelusuri tempat-tempat mati ini punya nama keren: urban exploration atau sering disingkat urbex. Hari ini, kita sangat sering melihat videonya berseliweran di media sosial. Orang-orang berbekal senter nekat masuk ke bekas rumah sakit, pabrik tua, atau taman hiburan yang sudah bangkrut bertahun-tahun lalu. Sekilas, ini terlihat seperti tren anak muda zaman sekarang saja, sekadar cari sensasi demi mendulang likes dan views. Tapi, mari kita mundur sejenak. Praktik mengagumi reruntuhan ini sebenarnya sudah berakar sejak abad ke-18. Dulu, kaum bangsawan Eropa bahkan rela membayar seniman untuk membangun reruntuhan palsu di taman mereka. Mereka sangat terobsesi dengan estetika bangunan yang hancur. Ini menjadi bukti bahwa daya tarik sebuah tempat yang ditinggalkan bukanlah hal baru. Ada sesuatu yang sangat purba dan mendalam dari cara kita merespons tempat-tempat sepi ini.

III

Pertanyaannya, kenapa kita mau repot-repot masuk ke sana? Secara logika bertahan hidup, masuk ke gedung kosong itu adalah kebodohan. Tempat seperti itu penuh dengan bahaya fisik. Ada risiko lantai yang rapuh, bangunan runtuh, tertusuk paku berkarat, belum lagi ancaman keamanan dari penjaga atau bahkan pelaku kriminal yang bersembunyi. Jika kita adalah makhluk yang didesain secara evolusioner untuk menghindari marabahaya, bukankah seharusnya kita lari menjauh? Kenapa otak kita justru dengan sengaja menekan tombol override pada insting keselamatan kita sendiri? Apa yang sebenarnya dicari oleh pikiran kita di tengah tumpukan debu, bau apak, dan tembok yang runtuh itu? Apakah kita hanya sekadar mencari hantu, atau jangan-jangan ada rahasia neurobiologis yang sedang bekerja di balik layar? Tahan sebentar. Jawabannya mungkin akan membuat teman-teman melihat gedung kosong dengan cara yang sama sekali berbeda.

IV

Mari kita berkenalan dengan sebuah sirkuit di otak kita yang bernama seeking system atau sistem pencarian. Seorang pakar neurosains ternama bernama Jaak Panksepp menemukan bahwa mamalia, termasuk kita manusia, punya dorongan biologis bawaan untuk menjelajah. Saat kita memuaskan rasa penasaran ini, otak kita melepaskan dopamin. Ya, ini adalah zat kimia yang sama yang membuat kita merasa sangat bahagia saat makan enak atau saat kita jatuh cinta. Bagi nenek moyang kita, sifat "kepo" ini sangat krusial untuk bertahan hidup. Mereka yang berani masuk ke gua gelap yang baru atau menyusuri hutan yang belum terpetakan, punya peluang lebih besar menemukan sumber air atau makanan baru.

Dalam konteks urbex hari ini, gedung kosong adalah "gua baru" kita. Otak kita tidak peduli bahwa itu adalah bekas pabrik semen; otak kita melihatnya sebagai sebuah teritori baru yang harus dipetakan. Selain itu, ada fenomena psikologis bernama nostalgia of decay atau pesona kehancuran. Saat kita melihat alam—seperti akar pohon atau lumut—perlahan mengambil alih beton dan besi, otak kita sedang memproses realitas tentang kefanaan. Kita seolah sedang melihat ke masa depan. Kita menyadari bahwa sekuat apa pun peradaban yang dibangun manusia, waktu dan alam pada akhirnya akan selalu menang. Jadi, ini sama sekali bukan urusan mencari makhluk halus. Ini adalah otak kita yang sedang berpesta dopamin, memecahkan teka-teki visual, dan memproses makna kehidupan itu sendiri.

V

Pada akhirnya, kita semua terlahir sebagai penjelajah. Masalahnya, kita hidup di era modern yang sangat aman, tertata, dan terprediksi. Kita menghabiskan sebagian besar waktu kita di dalam kubikel kantor yang terang, apartemen yang serba kotak, dan melewati rute perjalanan yang itu-itu saja setiap hari. Dunia kita sudah terlalu rapi dan membosankan bagi otak purba kita. Sebuah gedung kosong yang gelap, berantakan, dan tak terduga menawarkan pelarian yang sangat sempurna. Tempat itu mengembalikan kita pada insting paling dasar sebagai manusia: untuk melihat, menyentuh, dan memahami hal-hal yang tidak kita ketahui. Jadi, lain kali kita melewati bangunan tua yang terbengkalai dan merasakan dorongan aneh untuk melongok ke dalam, jangan buru-buru merasa takut. Itu bukanlah bisikan hal gaib. Itu hanyalah DNA leluhur kita yang sedang menyapa, mengingatkan bahwa di balik rutinitas kita yang aman, kita tidak pernah berhenti menjadi seorang petualang.